Beranda » Akhlak » “Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.”???

“Barangsiapa melakukan hubungan suami istri di malam Jumat maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi.”???

malam jum'atDalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar seseorang menyebutkan istilah “Sunnah Rasul” pada malam Jumat untuk memperhalus hubungan suami istri atau ML. Penyebutan tersebut muncul baik dalam obrolan-obrolan di warung kopi sampai status di social media yang isinya berkisar pada perkataan “Sunnah Rasul”.

Bagi mereka yang muslim dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi karena menurutnya mereka ingin menutupi sesuatu yang dianggap vulgar / tabu baginya bila disampaikan dalam ruang publik. Tapi akibatnya fatal, karena telah menyempitkan arti dari sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an menjadi hanya sebuah aktifitas seks semata. Terkadang mereka dengan bangganya mengatakan atau menceritakan saat malam jum’at atau di hari jum’atnya bahwa ia telah malakukan “Sunnah Rasul” yang di maknai bahwa ia telah berhubungan suami istri. Meskipun telah berstatus suami istri yang sah, tidak selayaknya seorang menceritakan kepada orang lain tentang hubungan suami istri yang dilakukannnya. Apalagi bertujuan agar orang lain membayangkan apa yang ia lakukan bersama istrinya.

Sedangkan bagi mereka yang telah dijangkiti penyakit islamophobia dalam mengucapkan istilah itu bisa jadi hanya ingin mengolok-olok, karena baginya ajaran Islam identik dengan urusan sex atau selangkangan. Sehingga tidak segan-segan menuduh dan melecehkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang katanya doyan kimpoi dan pedofilia.

“Sunnah Rasul” dalam pandangan syariat adalah sikap, tindakan, ucapan dan cara Rasulullah Shallalhu alayhi wa Sallam menjalani hidupnya atau suatu aktifitas dilakukan oleh Rasulullah Shallalhu alayhi wa Sallam dengan penjagaan Allah Ta’ala.

Keseharian dan perilaku Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan gambaran kesempurnaan utuh seorang manusia. Akhlak Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wassalam merupakan kesempurnaan akhlak pada diri seseorang yang harus diikuti dan diteladani. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagimu.” [QS Al Ahzab: 21].

Sedangkan kaitannya dengan jima’ dimalam jum’at, Seakan telah menjadi pendapat mutawatir akan sunnahnya berjima’ dengan istri di malam jum’at. Dan bahwa hal itu memiliki suatu keistimewaan khusus dibanding ketika dilakukan di waktu-waktu yang lain. Padahal, tak ada hadits shahih bahkan yang lemah sekalipun yang menyebutkan secara definitif tentangnya. Yang ada adalah kabar burung yang menyebarkan riwayat, “Barangsiapa yang melakukan hubungan suami istri di malam jum’at (kamis malam) maka pahalanya sama dengan membunuh 100 Yahudi”.

Kalimat tersebut tidak mempunyai sanad / bersambung ke sahabat, apalagi ke Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang akhirnya pada satu kesimpulan bahwa hadits “Sunnah Rasul” di atas adalah sama sekali bukan hadits, itu hadits PALSU yang telah dikarang oleh orang iseng, orang tidak jelas, dan tidak bertanggung-jawab yang mengatasnamakan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang jelas ada dalilnya tentang amalan sunah malam Jumat adalah Membaca Surat Al-Kahfi. Ada juga dalil tentang baca Surat Yasin, namun dalilnya disebut lemah (dhoif) oleh sebagian ahli hadits.

Dari Sa’id al-Khudriy ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, maka ia akan mendapat cahaya antara dirinya dan rumah yang mulia (Mekkah)” (HR. Ad Darimi).

Selain membaca Surat Al-Kahfi, amalan sunah malam Jumat lainnya adalah Memperbanyak Sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.

“Perbanyaklah shalawat untukku pada hari jum’ah dan malam jumah, karena barangsiapa yang bershalawat untukku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali” (HR. Baihaqi).

Sedangkan amalan – amalan sunnah pada hari Jum’at antara lain adalah :

Pertama, Mandi, Memakai wangi-wangian dan Pakaian yang Terbaik, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

“Siapa yang mandi pada hari jum’at dan memakai pakaian terbaik yang dimiliki, memakai harum-haruman jika ada, kemudian pergi jum’at dan di sana tidak melangkahi bahu manusia lalu ia mengerjakan sholat sunnah, kemudia ketika imam datang ia diam sampai selesai sholat jum’at maka perbuatannya itu akan menghapuskan dosanya antara jum’at itu dan jum’at sebelumnya.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Kedua, Memotong Kuku dan Mencukur Kumis

“Adalah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :”Memotong kuku dan mencukur kumis pada hari jum’at sebelum beliau pergi sholat jum’at.(HR. Al-Baihaqi dan At-Thabrani).

Ketiga, Bersegera Menuju Masjid.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

“Pada hari jum’at disetiap pintu mesjid ada beberapa malaikat yang mencatat

satu persatu orang yang hadir sholat jum’at sesuai dengan kualitas kedudukannya, Apabila imam datang/ naik mimbar maka para malaikat itu menutup lembaran catatan tersebut lalu meraka bersiap-siap mendengarkan khutbah, perumpamaan orang yang datang lebih awal seperti orang yang berqurban seekor unta gemuk, orang yang datang berikutnya seperti orang yang berqurban sapi, dan orang datang berikutnya seperti orang yang berqurban kambing, dan orang yang datang berikutnya seperti orang yang bersedeqah ayam, dan orang yang datang berikutnya (kelompok akhir) seperti orang yang bersedekah sebutir telur.” (H.R Bukhori no:929 Muslim no:850)

Keempat, Sholat Sunnah Ketika Menunggu Imam atau Khatib ( sebelum Khotib naik mimbar )

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

“Barang siapa mandi kemudian datang untuk sholat Jumat, lalu ia sholat semampunya dan dia diam mendengarkan khotbah hingga selesai, kemudian sholat bersama imam maka akan diampuni dosanya mulai jum’at ini sampai jum’at berikutnya ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

Kelima, Sholat Sunnah Setelah Sholat Jumat

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :“Apabila kalian telah selesai mengerjakan sholat Jumat, maka sholatlah empat rakaat.” Amr menambahkan dalam riwayatnya dari jalan Ibnu Idris, bahwa Suhail berkata,“Apabila engkau tergesa-gesa karena sesuatu, maka sholatlah dua rakaat di masjid dan dua rakaat apabila engkau pulang.” (HR. Muslim, Tirmidzi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Follow Syamaidzar on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: